Kumpulan Cerita Sex 2018 - Kejadian ini ketika hubungan kami mulai diwaspadai oleh ortunya.
Hasilnya, kami harus lebih hati2 saat bertemu bersamaan dengan adanya
ortunya. Seperti biasa, aku ditugasi kakak untuk menjaga rumahnya.
Ketika itu kakak dan istrinya sedang di Sby, akan melahirkan anak
pertama di salah satu RS bersalin dekat rumahku.
erhubung ibu dari pacarku masih bersaudara, maka ia dan ibunya menginap
di rumah kakak. Sempat aku khawatir, bagaimana harus bersikap dan
berperilaku seakan2 tidak ada apa2 di antara kami. Hari itu aku sudah di
rumah kakak, membersihkan rumah agar ketika pacarku & ibunya datang
sudah bersih. Selesai bersih2 rumah, istirahat sambil menyalakan tv.
Lalu aku ingat, beberapa koleksi be-epku masih dipinjam kakak. Kucari di
bawah tv..ketemu. Kupersiapkan segala sesuatunya sebelum acara “
relaksasi pikiran “ dimulai.Aku membuat mie goreng + telor ceplok dan es
teh untuk menemani nonton be-ep. Setelah semua on set, kutata 2 bantal
tebal di bagian kepala tempat tidur kakak. Ac kunyalakan, mie & es
teh keletakkan di meja kecil samping tempat tidur. Remote tv & dvd
player di sebelah tangan kananku..lalu aku bugil. Dan..film pertama pun
kuputar. Waow..one of my fave girl..Asia Carrera. Entah kenapa setiap
dia main, aku mesti ikut menghayati. Mungkin kupikir karena aktingnya
atau memang dia menghayati. Apalagi jika sudah mendesah & mengerang,
juga tubuhnya sedikit bergetar..uuhhff..rasanya aku sebagai pemeran
cowoknya. Rencana makan mie tertunda. Bagaimana tidak..tubuhnya sedikit
bergetar dihimpit laki2 yg terus menghunjamkan penisnya dalam2.
Erangannya sungguh membekas. Tak terasa pucuk penisku mulai keluar
cairan.Setelah film pertama habis, kuganti chanel dvd dengan siaran tv.
Baru aku makan mie goreng & telor ceplok. Lalu kucuci piring dan
peralatan dapur yg tadi kupakai masak mie goreng. Film ke dua telah
menanti. Kali ini cewek Jepang dengan orang barat. Mereka mainnya bagus,
tidak langsung tembak. Hasilnya si cewek saat dioral sudah mengeluarkan
cairan putih kental. Aku tak tahu, apakah itu tanda ia orgasme atau
sekedar pelumasnya. Saat lakinya mulai memasukkan penis setelah
10menitan, cairan itu menempel di penis. Membuat pucuk penisku ikut
keluar cairan. Sekarang si cewek di atas.Desah & erangnya makin
menjadi. Akhirnya setengah berlari aku ambil segulung tisu dan body
lotion di lemari depan. Aku onani sambil lihat mereka main di layar
kaca. Hampir saja maniku tumpah ke kasur karena gumpalan tisu yang sudah
kutata di tangan kanan agak tidak menampung semprotan dari penisku.
Lalu aku mandi dan tidur di kamar kakak. Besok bangun pagi tuk menjemput
bidadariku dan ibunya di stasiun.Aku telah berada di Pasar Turi,
menunggu kereta yang di dalamnya berisikan pacarku dan ibunya. Sambil
menunggu, kunyalakan 234 lalu kusedot. Lumayan, ada setengah jam
menikmati rokok. Terdengar suara khas di stasiun yang menandakan kereta
akan masuk. “Kereta dari Semarang akan tiba sesaat lagi. Harap para
penjemput tidak berada di dekat rel..dst”.“Lumayan on time..”, pikirku.
Rokok pun pas matinya. Singkat kata kereta telah berhenti. Sesuai sms,
mereka di gerbong 4. Aku beranjak dari duduk dan berjalan pelan menuju
gerbong 4. Kulihat mereka sudah menurunkan barang – barang dan antri
untuk turun. Aku menyalami pacar dan ibunya. Kubawakan salah satu koper
yang paling besar. Kami meluncur menuju rumah kakak. Pacar duduk di
sebelah dan ibunya di belakang.Kami benar – benar menahan diri untuk
tidak memperlihatkan bahasa tubuh yang menandakan there’s something.
Sesampai di rumah kakak, aku kembali keluar rumah untuk beli masakan.
“Ma..aku ikut ya..”, pinta Vina. “Yo wis..melok’o..ati – ati”.
“Berangkat dulu Tante..,” aku pamitan. Ibunya mengangguk lalu kututup
pintu pagar.Mobil berjalan keluar pelan dari gang komplek perumahan.
Kucari area yang agak sepi. “Kenapa Mas brenti..?”. “Hm..karena ini..”,
kucium lembut dan dalam bibirnya. Mulanya agak kaget lalu mengimbangi.
1menit kami berciuman. Kupegang 2 pipinya, “kangen Yank..”. “Sama
Mas..”, ia mengusap – usap rambutku. Mobil kujalankan lagi. Kali ini
sudah tidak ada “lalat” yang sedang terbang mengawasi. Kami bercanda
riang sepanjang jalan menuju rumah makan. Sambil menunggu pesanan, kami
memesan minuman. Sesekali kupencet ujung hidungnya karena kangen dan
sayang. “Malu ah Mas..banyak orang..”.“Biarin..EGP..hi3x..”. “Huu..”,
kupingku dijewernya. Pesanan datang, mobil berjalan pulang ke rumah.
Jika sedang di kepala kopling, tanganku digenggamnya. Beberapa kali kami
berciuman di mobil yang berjalan, tentunya lihat situasi jalan.
Memasuki komplek perumahan, baju dan tatanan rambut kami rapikan. Jangan
sampai mengundang kecurigaan Ibunya. Mendekati gang rumah, kucium lagi.
“Mas..udah mo nyampe lho..”. “Biarin..habis ini kan hampir mungkin gak
bisa deketan..”. Vina hanya tersenyum.Sepanjang hari ini nothing special
happened. Masing – masing jaga diri. Maksimal ketika Ibunya sedang
mandi, kami hanya berciuman dan saling meremas. Atau ketika aku sedang
cuci piring dan Vina mengantar piring atau gelas kotor, kami ciuman
kilat. Esoknya, “Wan..nanti malem pintu kamar tak buka”. “Kenapa
Tante..”. “Nggak..semalem kayaknya ada yang seliweran di jendela
sebelah..”.“Ha..masa sih Tan..”. “Dan kamu tidur depan kamar ya..”,
sambung Tante sambil tersenyum.“Ee..iya Tante..”, kepala kugaruk – garuk
sambil nyengir.Vina keluar kamar mandi lalu kukasih tahu.“Eengg..jadi
ikut takut nih Mas..”. “Udah..gak ada apa – apa.
Biasa..kenalan..”.“Huu..awas kalo tidurnya pindah..”, aku diuber. Ibunya
hanya senyum – senyum lihat tingkah kami. Hari ini kami bersih – bersih
rumah, nyapu – ngepel – dll.Karena besok ada rombongan tamu keluarga
datang. Jam dinding menunjukkan pukul 8.30 malam. “Wan..jangan lupa
tidur depan kamar ya..pintunya terbuka aja”.“Iya Tan..paling kalo susah
tidur aku pindah kamar..”. “Kalo sampe gitu..tak bilangin Bapak..”,
ancam Tante. Aku hanya nyengir.
Tak berselang lama Tante sudah tidur, mungkin karena capek bersih –
bersih rumah tadi. Suara dengkurnya sudah memenuhi kamar. Aku dan Vina
masih menonton tv. Sampai secara bersamaan kami saling berpaling. Aku
berjingkat pelan mengintip kamar Tante, memastikan persentase
lelapnya.Kudekati Vina, kupegang dua telapak tangannya lalu kucium. Dua
pipinya kupegang dan kutarik mendekatiku. Vina yang pertama menciumku.
Dua tangannya memegang leherku. Akhirnya, setelah lama menahan diri kami
bisa bebas bermesraan walau situasi masih belum benar – benar aman.Aksi
saling memasukkan lidah dan membelit pasangannya sudah terjadi. Vina
merapatkan duduknya. Punggungku dielus – elus. Kubalas dengan
menjalankan telunjuk kananku ke dua bundaran di dadanya, menyusuri leher
dan berhenti di bibirnya. Dikecup, disedot dan digigit kecil. Dua
tanganku turun dari pundak dan menjelajah dua bukit indahnya. Kubelai,
kuremas lembut. Tangan kiri Vina menyusuri paha kananku, sedang tangan
kanannya mengusap – usap penis yang mulai ereksi yang masih terbelenggu
celana selututku.
“Uhuk..uhuk..”. Plass..wajah kami langsung pucat dan merah, hijau dan
entah apa lagi. Ibunya batuk 2 kali. Kegiatan kami langsung berhenti.
Penis pun langsung mengkerut. Kami berdiam diri, cukup lama, saling
berpandangan dan bergantian menatap kamar yang terbuka. Setelah yakin
hanya batuk kecil, kuajak Vina pindah di kasur lantai tempat aku tidur
nanti. “Mas..kan malah ketauan..”. “Nggak..kan agak kugeser
kasurnya.Begitu Ibumu ada gelagat bangun, langsung lari ke kamar mandi
sebelah kan..”. “Iya sih..tapi Mas..”. Kupotong, “udah..semoga sesuai
harapan..Kayaknya pulas banget..seharian kan pada bersihin rumah”. Kami
saling berbisik di telinga. Vina diam, tanpa menunggu jawaban lagi lalu
kuelus pipi kanannya dan kucium lembut bibirnya. Kuserang lagi area –
area sensitifnya. Lambat laun ia memberikan balasan. Tangan kanannya
merayap naik dari celah celana.Tangan kirinya masuk ke kaosku dan
mengusap – usap pentil – pentilku. Tangan kiriku menyusup ke atasan baby
dollnya. Kulitnya yang halus langsung terasa. Mata Vina mulai sayu.
Berjalan di perut, tulang iga, lalu ke gunung kembarnya yang masih
berkabut. Kuremas lembut, kiri dan kanan. Lidahnya makin membelit dan
masuk ke rongga mulutku. Tangan kananya yang telah menangkap ular
celanaku lalu sedikit meremasnya.Beruntung kabut yang menutupi gunung
kembarnya tidak berkawat. Sedikit kusibakkan dan dapat kusentuh pucuk
gunungnya yang mulai mengeras.
Telunjukku kusentil – sentil dan kuputar – putar di pucuk gunung yang
kiri. “Hmm..”, Vina mulai mendesah sepelan mungkin. Sekarang ganti pucuk
gunung yang kanan. Tangan kirinya yang masih di dalam kaosku juga
bermain – main di dua pentilku. Telunjuk dan jempolku mulai berpadu
memainkan tuts yang menghasilkan desah dan erangan.Tangan kirinya keluar
dari kaos, menyusul tangan kanannya. Celanaku perlahan diturunkan.
Dingin pun menyergap tubuh bawahku. Vina makin merapat duduknya. Tangan
kanan dan kiriku saling menangkup dua gunungnya, meremas. Lalu kait
penyebab kabut kulepaskan. Kabut penutup dua gunung indahnya perlahan
kusingkirkan dari balik atasan baby dollnya. Kekenyalan dan tegaknya
pucuk – pucuk gunungnya sudah bisa aku nikmati. Cdku diturunkan sedikit,
kepala ular celana pun terlihat. Jempol kanannya mengusap tetes air di
sana dan menjilatnya lalu menciumku.Kuangkat atasan baby doll, kepalaku
bersemayam sejenak mencucup keindahan ragawi ciptaan – Nya. Kepala
penisku dielus – elusnya. Kuremas dan kucucup bergantian. Tangan kiriku
menelusup celana baby doll. Menyentuh kulit pantatnya. Jari tengah
mencari jalur pertemuan dua pantat dan berhenti di lubangnya.
“Sshhttt..gelllii Maasss..”. Cdku semakin turun dan akhirnya terbuka
total tubuh bawahku. Tangan kanan menggenggam erat dan yang kiri
memainkan dua bola coklatku. Kepalaku masih terlalu asyik sembunyi di
baby doll atasannya. Tangan kananku bergerak masuk ke celana baby
doll.Bagian depan cdnya sudah lembab dan hangat. Kutekan – tekan dengan
telunjuk dan jari tengah. Tak sabar, aku masukkan lima jariku ke dalam
cdnya. Tiada duri yang perlu ditebas di sana. Si jempol aku gosok –
gosokkan di lembah luar. Penisku mulai digerakkan naik turun. Tak mau
berlama – lama, aku keluarkan kepala dan kutarik pelan celananya.Vina
segera telentang. Cdnya warna merah muda, sewarna dengan bh, tetapi ada
seraut kepala beruang di bawah benang atas.Telunjuk kanan menyusuri
lembah yang tercetak jelas akibat mengalirnya air kenikmatan. Vina
menatap wajahku dan tersenyum manis. Kucium kepala beruang yang juga
tersenyum. Tercium aroma yang khas. Kugigit hati – hati agar tidak
mengenai lembahnya. Ujung lidahku mengecap air yang menempel di cdnya.
Perlahan aku turunkan. Vina mengangkat pantatnya. Kubuka pahanya
sedikit, lalu bibir dan lidahku menyusuri lembah surgawi. Rambutku
dielus dan sesekali diremas. Air kesehatannya semakin mengalir ketika
lidahku mulai mengaduk – aduk lembah dalamnya.Tubuhku didorong pelan.
“Hmm..oohh..”, kepala penisku diemut dan disedot pelan. Kami saling
mengeksplorasi area paling intim bagi setiap manusia. Vina menghentikan
aksinya, memutar tubuh. Penisku dipegang mantap. Pelan – pelan
pinggangnya diturunkan. Matanya tertutup dan bibirnya membentuk huruf o
kecil, “oohhh..”. Kuangkat pinggang sedikit untuk mengimbangi dan
memegang dua pantatnya. Kurasakan nikmat yang semakin terasa saat penis
ini tenggelam ditelan gua surgawi.Dua tapak tangannya menekan dadaku.
Pinggangnya dinaik turunkan pelan –pelan. Tangan kiriku di pinggangnya
dan yang kanan meremasi dua gunungnya. Rambutnya sesekali dikibaskan dan
matanya menatapku dalam – dalam..indah melihatnya. Aku tersenyum dan
bibirku membentuk “I love you..”. Vina menundukkan badan dan menciumku
dalam – dalam. Kepalanya terdongak kala ia menurunkan pinggang lalu
kuhentakkan pelan pinggangku ke atas.“Aahh..Mmmaass..”. Kupegang erat
pinggangnya lalu kudiamkan dan kumaju mundurkan. Vina memutar – mutar
pinggang. “Enaknya Yankkk..”. Kepalaku dipegang dua tangan lalu rambutku
sedikit diremas. Aku diciumnya dalam – dalam. Bibirnya kulepas,
“Yank..ganti ya..”. Vina mengangguk lesu. Aku lalu memintanya telungkup
dengan pantat sedikit naik. Kumasukkan pelan – pelan. Hampir bersamaan
kami mendesah, “uuffsstt…”. Penis keluar masuk dengan teratur, tidak
terburu – buru.Bunyi kecipak penis di dalam gua yang berair terdengar
sedikit nyaring. Kulepas penisku. “Ada apa Mas..”. Aku tidak menjawab.
Aku lalu duduk agak bersila. Kupegang tangan kirinya. Tanpa bertanya ia
sudah tahu.
Penisku dipegang tangan kanan dan masuk pelan – pelan. Dua kakiku
kuletakkan di bawah pantatnya. Kami berciuman dan saling membelit lidah.
Pinggangnya naik turun yang kutopang dengan dua tanganku. Kadang
kutekan dalam – dalam dan kuputar – putar pinggangnya. Kadang kuhentak –
hentakkan. Kepalanya bergoyang kiri kanan.Rambutnya ikut tergerai pula.
Lehernya aku jilat dan cium. Dua tangannya kadang meremas pantat kadang
memeluk punggungku. Jam dinding menunjukkan 21.30.
“Mmaass..aakkkuu…aaahhhssttt..”. Kepalanya tertunduk di dadaku, aku
dipeluk rapat. Gerakan pinggangnya terdiam sejenak. Kucium dahi dan
kepala atasnya. Vina lalu menciumku, “makasih Mas..Mas belum..?”.
“Bentar lagi mungkin”. Pelan – pelan aku baringkan di kasur lantai
dengan tubuh bawah masih bertautan.Dua kakinya mengapit pantatku.
Kembali aku benamkan penis di guanya. Kami berciuman. Sesekali aku cium
dan gigit dada dan pucuk – pucuknya. Gerakanku makin cepat. Vina juga
makin erat memelukku. Dua kakinya menekan dan mengapit pantat kuat.
Kepalaku ditarik dan memeluk punggung erat. “Mmmaass…”, syair dari bibir
mungil terdengar di kuping kiriku. “Yankk..aku mo keluar..”,
bisikku.Tubuhku didorong pelan. Vina kembali di atasku. Segenap sisa
tenaganya dikeluarkan. Aku meremasi dua gunungnya. Pinggangnya diputar
dan ditekan dalam – dalam. “Yyaankk..aakkuu..”. Vina turun lalu meremas
dan mengocok penis cepat – cepat. Tak berselang lama,
“Yyaannkkk…oouuhhh”. Semburan kuat memancar, memenuhi perut dan dadaku.
Vina masih setia mengocok dan mengurut penisku. Aku elus – elus rambut
panjangnya.Tangan kanannya yang penuh lava panasku dijilati. Bibirnya
lalu mendekati kepala penis dan dimasukkan di mulutnya. Sesekali
disedot. Kurasakan sedikit ngilu dan gemetar tatkala lidahnya menjilati
lubang penis. Matanya menatapku manja. Vina mengambil cdnya lalu
diusapkan ke bibir. Aku diciumnya mesra..“Makasih Yank..”. Aku peluk
tubuhnya. “Aku juga terima kasih Mas..”. Tangan kanannya masih mengocok
penisku yang makin mengecil. Jam dinding aku lirik. “Dah..bobo sana.
Ntar dicari Mama”. “Iya Mas..”. Aku dikecup pelan, “met bobo..” Aku elus
rambutnya, “met bobo juga..”. Vina masuk kamar mandi dulu dengan
bertelanjang dan membawa baby doll, bh serta cdnya. Kutatap langit –
langit ruangan dan tersenyum. Dan Ibunya pun tetap terlelap…
Home
»
. Hasilnya
»
diwaspadai
»
hubungan
»
ini
»
kami
»
Kejadian
»
ketika
»
mulai
»
oleh
»
ortunya
» Kumpulan Cerita Sex Ketika Ibunya Tidur Kami Bercinta Diam-Diam
Wednesday, August 8, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment